Minggu, 01 Maret 2015

Dasi aday jadi dasi wisuda

Ingat dulu saat kecil, saat dia masih lebih kecil dari tinggi badanku. Lebih sering berantem, berebut suatu hal, tak mau kalah. Bahkan sempat berantem sampai dia menendang kaca jendela kamar hingga pecah, kakinya luka dan harus dijahit.

Kali ini dia telah jauh lebih tinggi dariku. Dasinya bukan lagi dasi lebar seperti serbet untuk makan, tapi dasi orang dewasa beserta kemeja dan jasnya. Satu semester lalu dia dinyatakan lulus, dan akhir februari lalu dia lengkapi dengan toga, dia diwisuda.

Setelah lulus SMA 2009 dia diterima di Unsoed. Setahun kemudian dengan alasan iklim kuliah yang tak sesuai harapan dia ikut tes lagi berburu ITB. Sayangnya gagal. Ingat betul saat itu Ibu meminta sarandariku tentang keinginan dia. Aku jawab pada ibu, percayakan padanya soal keinginan pindah kuliah. Tak masuk ITB, dia mencari jurusan dambaanya yang tak kalah dari ITB, tak tanggung dia dapat UNPAR. Ibu makin bertanya, sekali lagi aku jawab berikan kepercayaan.

Lima tahun setelah itu, dia menjawab kepercayaan Ibu. Sekalipun tak ada lagi beliau yang duduk bersama bapak di belakang barisan kursi wisudawan seperti wisudaku dulu. Ade jadi kabar baik buat kami, buat Bapak terutama.

Rizky Fadlurrahman ST. Semoga menjadi orang soleh berguna ya de. Semoga Abi berhasil mengejar toganya akhir tahun ini lalu. Amin.














Minggu, 28 Desember 2014

sama saja

Desember ini masih belum ada kabar baik, maafkn aku ibu.

Selasa, 17 Juni 2014

recovey (bag. 2)


Tahun lalu saya tak disana.
Tahun lalu tak ada prasangka tentang kejadian dua bulan berikutnya.
Tahun lalu biasa dalam peran, beliau membawa keseimbangan.
Tahun lalu seperti tahun sebelumnya, yang paling depan mempersiapkan ramadhan.

Bu shaum mulai tanggal berapa? aku belum bisa pulang, mungkin tanggal kedua.










Rabu, 09 April 2014

recovery (prolog)

Saya menulis di sebuah tempat di sumatera, di suatu provinsi yang tak terlalu jauh dari hutan dan sungai. Di sebuah rumah berdindingkan kayu tua yang dicat putih, disebelah sebuah gelas berisi air putih yang setia menyeimbangkan suhu tubuh yang tak tahan udara panas daerah ini.

Siang ini ada menu kerang kesukaan saya, namun entah keinginan siapa, justru saya malah memilih sebungkus indomie kari ayam sebagai sarapan yang terlalu telat ini. 

Baiklah, tak sedikit orang yang bertanya tentang kabar saya, dan nampaknya tak sedikit pula dari mereka yang berakhir kecewa karena kabar tak kunjung kukirim. Lewat blog ini saya mencoba memberi kabar.

Pasca meninggalnya ibu, saya memang berencana beristirahat sekitar dua minggu. Namun ternyata emosi menuntut lain, ingatan tentang ibu begitu melekat. Awalnya saya beristirahat di jatinangor, setelah dua minggu saya memang menepati janji dengan kembali ke bogor, namun lagi-lagi psikis yang menahan saya sehingga kunjungan saya di bogor sekedar mengantar benih, menginap di rumah teman, dan menginap di kedai kopi langganan saya. Rasanya sangat lekat, karena  belum lama ibu menyampaikan keinginan untuk bisa berkunjung ke kebun. Namun saya belum bisa mewujudkannya.

Tiga hari di bogor saya kembali ke bandung dengan tertunduk lesu, bukan karena secara langsung sedih akan ketiadaan ibu, tapi ketidakmampuan mengontrol emosi seperti biasanya. Saya kembali lagi ke jatinangor, ada teman saya yang mempersilahkan kamarnya dijadikan tempat beristirahat dan beribadah. Saat itu saya hanya diisi dengan tidur, solat, doa, baca. Tidurpun seperti tanpa irama, kadang mimpi indah, kadang mimpi buruk atau kadang tanpa mimpi dan terlalu nyenyak karena energi siang hari di akuisisi semua oleh fikiran yang tak fokus.

Dua minggu kemudian, berhubung banyak yang memberi saran tentang keadaan saya, maka saya mencoba mengumpulkan energi, meyakinkan diri bahwa saya siap ke kebun lagi. Kembali, kondisi fisik belum menerimanya, trombosit saya turun ke sembilan puluh tujuh ribu. Kata dokter, saya terkena demam berdarah dan itulah sakit berat pertama yang menjebloskan saya ke rumah sakit selama sembilan hari.




Selasa, 08 April 2014

recovery (bag. 1)



Perjalanan masih berlanjut, emosi semakin kental timbul tenggelam. Akhirnya harus dipaksakan menyenangkan, karena itulah hidup, karena tidak ada makhluk yg abadi, makanya diciptakan ikhlas dan sabar untuk menggantinya. Pilihanya hanya dua, tenggelam dengan bersedih, atau berusaha menyelam ke permukaan, maka opsi terakhir itu yg sedang saya kayuh. Karena dasar pemikiran bahwa manusia tidaklah hidup sendirian, maka saya harus mulai mengayuh untuk orang-orang yg menyayangi saya.

Sebulan pertama memang waktu yg sangat berat. Saya sebut "bangke" karena memang menghabiskan waktu di dalam ruangan. Mendapat kabar pekerjaan yg kacau balau seakan bebal karena kalah dengan rasa sedih. Sampe akhirnya ada sahabat yang mengajak saya traveling, ke bagian tengah indonesia, tepatnya ke Taman Nasional Komodo. Dia mengerti betul, pekerjaan yang dapat menghibur, atau lebih tepatnya hiburan yang dapat menjadi sebuah pekerjaan adalah ketika saya menggenggam kamera. Maka berangkatlah kami bersama Kemal, Jo, Asti, Oco, Wawa, Indra.

Diatas boat di perairan komodo, berjalan di kampung rinca, melihat pari di manta point, maka gairah saya kembali lagi, cukup membangunkan dari lamunan yang menenggelamkan selama sebulan. Hangat matahari, dan nasihat "kebahagiaan akan membunuh berbagai penyakit" dari calon tempat terapis ibu seakan bilang "hey nak, waktumu masih panjang, maka berjalanlah kembali", dan seketika itu saya mulai bisa tersenyum.



 


 

 









Saya setuju saat jodoh adalah di tangan Allah. Sebelumnya saya sempat bercerita, menjelang ibu masuk rumah sakit, saya hampir berangkat ke Rinjani. Syukurlah karena saat itu saya tidak jadi berangkat, dan memang jodoh tak lari kemana, setelah tur kepulauan komodo, kami para laki-laki melanjutkan perjalanan ke gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia tersebut.

Awal rencana kami akan mendaki kemegahan rinjani lalu menapak tilas gunung dengan sejarah letusan dahsyat, Tambora. Namun singkat cerita melihat waktu dan kondisi fisik, maka perjalanan kami dicukupkan sebatas Rinjani. Lagi-lagi saya meyakini, kalo jodoh maka suatu saat saya akan benar-benar mengunjungi Tambora.

Perjalanan ini cukup menguras tenaga, terlebih saat melewati "tujuh bukit penyesalan". Saya bahkan sempat tak percaya berada di jalur tersebut. Dengan berat badan 48kg, saya memikul ransel dengan bobot terberat, ingin sekali menyerah karena fisik. Namun langkah-langkah kecil akhirnya mengantar saya tiba di pos pelawangan, kami mendirikan kemah dimana dapat melihat tegaknya puncak rinjani dan indahnya danau segara anak.






 Cuaca memang menghindarkan kami dari terik matahari yang membuat dahaga, namun cuaca juga yang mengurungkan niat kami untuk tiba di puncak rinjani. Setengah jalan saat melakukan summit attack, kami terpaksa menghentikan langkah demi keselamatan. sungguh kecewa memang karena kami sudah berjalan jauh dan membuat kami harus kembali ke pelawangan. Bahkan kami harus menahan kecewa karena setelah memperhitungkan resiko, kami memutuskan untuk mengurungkan perjalanan ke segara anak, maka kami kembali pulang.


Banyak hal menarik saat saya naik turun gunung, sesaaat saya merasakan ada yang mengingatkan Fasta'iinuu bishabri wasshalaat innallaha maashaabirin, atau kalo kata paolo choelho saat punya keinginan yang kuat, maka segenap alam semesta akan bersatu membantu. Disitu juga saya berjanji akan mulai berjalan lagi, karena kata pelajaran SD, hidup kita tidak sendiri. Banyak orang yang menunggu kita berada pada tempatnya.





Rabu, 16 Oktober 2013

Ibu, terima kasih, kami menyayangimu.

Agustus tak semeriah sepuluh tahun lalu dan september tak seceria lagi lagu yang sering dinyanyikan orang saat beranjak masuk bulan itu. Seumur hidup, maka itulah saat dimana saya mengalami kondisi paling emosional diantara cuplikan emosional lain yang telah saya alami. Orang bilang memang sudah waktunya bagiku untuk mengalami hal tersebut. Entah kapan terakhir kali saya menangis, maka disitulah saat katup air mata tiba-tiba harus longgar beriringan dengan emosi yang luar biasa berat.

Sejak dua bulan lalu perasaanku memang bercampur aduk, pilihan antara mempertahankan perusahaan yang tak kunjung stabil dan keinginan menemani ibu karena keluhan sudut pandang matanya yang menyempit. Sungguh cemas karena untuk berjalan saat mengantar berobat pertama ke poli mata di Rs al-islam, ibu beberapa kali nyaris jatuh, jika tidak menundukan kepala beliau tak bisa melihat objek satu meter di depan kakinya. Beberapa kali juga saat itu saya mewanti-wanti kedua adik saya agar jangan membiarkan ibu pergi sendirian.

Sangat berat saat merasakan kecemasan berlebihan namun tetap harus menjaga penampilan dan meyakinkan orang bahwa saya sedang dalam kondisi baik-baik saja, terlebih kebun sangat membutuhkanku saat itu berserta segala masalah yang tak kunjung usai. Namun disaat bersamaan saya sedang mengalami masa bosan karena nyaris terlalu larut pada rutinitas, keadaan yang diluar kebiasaan saya sebagai orang yang suka petualangan. Maka di akhir agustus itu disepakati saya akan rehat sejenak dan mencicipi manisnya surga di tanah rinjani. Rencana saat itu saya berangkat tanggal 2 september.

Gelisah nampaknya mulai nampak sejak hari senin tanggal 26 agustus, saat hendak ke bogor, beberapa kali juga seakan ada halangan yang saya pun sulit mendeskripsikannya pada rekan di bogor soal ngaretnya saya kembali ke kebun. Halangan itu bermacam-macam, mulai dari atm yang hilang dan ternyata saya temukan di dompet keesokan harinya sampai mengalami demam hebat yang terjadi di malam hari namun bisa jalan-jalan esoknya. Alhasil saya enggan berkabar dan memutuskan ingin pulang ke rumah hari kamis tanggal 29, itupun karena saya mendapat kabar dari abi, adik saya yang kedua, soal kondisi ibu yang makin parah. Namun ternyata rabu malamnya saya dikabari bi ajeng, katanya saya gak perlu pulang, tapi siap-siap mendampingi ibu ke rumah sakit. Entahlah, kecemasan tingkat apa yang saya alami waktu itu, pertanyaan soal kondisi ibu yang membuatnya harus dibawa ke rumah sakit saya buang jauh-jauh. 

Kamis pagi, saya janjian dengan Bi kiki yang menemani ibu, bapak, dan mang arif di cileunyi. Tak sanggup bertanya saat melihat kondisi ibu yang nampak lemas. Kabar bahwa ibu sulit makan membangun fikiran positifku kalau ibu hanya sakit kekurangan nutrisi walaupun hal itu gak menyurutkan kecemasanku terhadap beliau. Sejak saat itulah dimulai muncul energi entah darimana, energi yang sanggup membendung emosi cemas, energi fisik yang hanya dengan dasar ingin berbakti sebaik mungkin dan energi sebagai anak pertama. Saat itu juga saya merasakan dan sangat bersyukur akan kebaikan ibu kepada semua orang, serta kebaikan semua keluarga, jika difikir, tanpa itu semua saya tak akan sanggup melewati keadaan ini.

Ya allah, sebenarnya ada apa ini? akankah saya akan mendapat ujian yang sangat besar? Tak pernah sebelumnya melihat bapak menangis seperti itu. Menangis penuh sayang yang sangat dalam.

Seraya menyampaikan kabar buruk, saya yang duduk di kursi paling belakang harus ikut meneteskan air mata, mengusap kepala ibu.. 

bu, ibu sehat kan? ibu masih bercita-cita akan pergi haji berlima kan? ibu ingin melihat saya beristri kan?

 ***

Tujuan pertama kami pada kamis pagi itu adalah ke rumah sakit mata cicendo. Saat itu saya masih belum bisa menyimpulkan antara kondisi lemas ibu, sakit mata, dan rumah sakit hasan sadikin, namun kami malah mengunjungi cicendo dulu.

Tiba di cicendo, bapak dengan sigap daftar, sedangkan ibu dibiarkan menunggu di mobil. Terlihat langkah bapak yang dipaksakan menopang fisik tak lagi baik dan emosi yang bisa menjatuhkannya kapanpun, maka saya terus menemani beliau. Tujuanya adalah ke poli syaraf, hingga saat giliran ibu dipanggil, saya mengikuti instruksi bapak dengan masih penuh tanda tanya besar.

Ibu kenapa pak???

Pertanyaan tersebut terus berulang-ulang berputar sampai bapakmenyerahkan hasil MRI berupa foto bagian otak ibu dan  menjelaskan kondisi ibu ke dokter syaraf ketika itu. Tanpa detail mendengarkan, saya ikut melihat hasil foto tersebut,

benjolan apa yang ada di kepala ibu??

mengarah ke sebuah foto rontgent dengan isi yang abnormal jika dibanding foto serupa yang saya dapatkan di buku dan internet, terdapat tumor sebesar 5 cm yang berada di otak kiri ibu. Dada terasa sangat panas, tak tau harus berkata apa karena berusaha mencerna kembali dan memaksakan bilang "oh.. itu mah pasti cepat sembuh"

serius cepat sembuh? itu tumor di bagian paling vital dalam tubuh ban!!

Beberapa dokter ahli di cicendo berdiskusi dan ternyata memang merekomendasikan langsung menuju hasan sadikin.



Setelah mendapat rekomendasi dan berbagai penjelasan, kami langsung menuju ke RSHS. Saya hanya sanggup membuntuti dan menjaga bapak yang lincah namun memaksakan untuk tegar saat mendaftar, mengurus askes dan berbagai administrasi saat masuk. Agak emosi saat mencari kursi roda namun saat itu sama sekali gak ada kursi roda yang bisa dipinjam dari rumah sakit, walaupun saya lihat ada satu kursi roda yang menganggur entah untuk siapa. Saya tak mau menghabiskan banyak waktu untuk itu, peristiwa seperti di film 3 idiot akhirnya saya alami, dari mobil saya gendong ibu sampai ruang pemeriksaan. Bukan saya tidak sudi menggendong ibu, tapi saya merasa kasihan karena untuk berpegangan saat digendong pun ibu benar-benar tanpa tenaga.

Saat heptik dan kesal dengan fasilitas rumah sakit umum, saya berjajni pada diri sendiri, saya harus sukses. Saya berjanji agar ibu tak mengalami hal seperti ini lagi.

Setelah mendapatkan pemeriksaan dan para dokter pun berdiskusi tentang hasil MRI, dan saat itu juga saya mendapat penjelasan lengkap soal kondisi ibu dari bi kiki, dokter menyatakan ibu harus menjalani operasi pengangkatan tumor di kepalanya, maka sejak saat itu ibu dianjurkan lansung menjalani perawatan bedah. Masalah kenyamanan rumah sakit tidak cukup soal kursi roda, ruang kelas satu saat itu sedang direnovasi, dan ruang kelas dua penuh. Namun alhamdulillah sepupu saya adalah seorang perawat disana dan kebetulan sedang libur, jadi dia bisa membantu dalam mengurus kebutuhan ibu, termasuk jalur pemeriksaan, kursi roda dan ruang perawatan yang nyaris tak kami dapatkan.

Belum pernah saya lihat bapak menangis di sepanjang langkah berat beliau. Situasi yang biasa saya dapat di buku cerita, tepat ada di hadapan muka, tentunya gak seheroik di cerita fiksi. Saya bangga dengan bapak karena dia dicintai ibu karena kesetiaan dan kejujuran yang selalu kami contoh. Tangisan di tiap perhatian dan ingin berbuat yang terbaik untuk ibu, "ibu harus sehat".





Singkat cerita, keesokan hari setelah para dokter berkesimpulan untuk melakukan operasi pengangkatan tumor di kepala ibu, kami termasuk bapak mulai bisa berfikir jernih dan membuang kata panik jauh-jauh, mulai berfikir dan berdiskusi sana-sini tentang plus minus jika dilakukan operasi. Saya ingat betul, suasananya ternyata jauh lebih berat dibanding harus pake rumus apa yang akan dipakai di metode penelitian, karena hasil dari keputusan tentang operasi ibu adalah menyangkut nyawa.

Hari mingggu,   berkejaran dengan prosedur operasi, setelah berfikir matang, bapak akhirnya manandatangani pernyataan membawa pulang ibu secara paksa, atau artinya kami akan menghindari opsi operasi yang telah dijadwalkan. Opsi telah diambil dan ditandatangani (betapa saya melihat jiwa besar bapak saat menandatangani perjanjian pembatalan operasi), maka kami harus pulang Walau sangat cemas karena jika pulang, maka ibu tak akan mendapatkan infus, satu-satunya cara nutrisi yang bisa masuk ke dalam tubuh, dan juga ibu tak akan mendapat obat penahan rasa sakit.

Keputusan telah diambil, artinya tak ada waktu untuk berleha-leha, karena ibu pulang dari rumah sakit bukan berarti sembuh, tapi mulai berjuang untuk menempuh jalur alternatif. Rasa syukur timbul saat itu, rasa syukur karena profesi bertani dan berkegiatan organik saya merupakan hal penting yang sangat ibu butuhkan, tak sulit untuk menentukan bahan pangan apa yang akan kita konsumsi, ditambah bi kiki sangat aktif bergerak di makanan sehat, saat itu pun saya memutuskan untuk segera berpindah domisili di bandung untuk mendukung kesehatan ibu, saya bersedia menjadi penyuplai utama makanan untuk ibu.


Hari senin tanggal 2 september saya bersama bi kiki, juga mang cecep mulai hunting penjadwalan berobat alternatif. Alhamdulillah, untuk pengobatan di daerah katamso, saat hari senin pun kami telah mendapat jadwal konsultasi. Kami dapat jadwal konsultasi esok harinya, alhamdulillah.

Jadwal telah kami dapatkan, rencana selanjutnya adalah pergi ke rumah cicalengka, menyiapkan baju ganti serta berkonsultasi pola makan ke teman bi kiki yang juga mengidap kangker di nagreg. Namun karena ponsel saya tertinggal di metro, akhirnya kami harus kembali lagi. Rencana berkata lain, kondisi ibu sangat memprihatinkan, makanan sama sekali tidak masuk, dan ibu bicaranya mulai ngacau. Makin sore kondisi ibu makin sulit dideskripsikan, karena makanan tak kunjung masuk akhirnya bi ajeng memanggil dokter homecare ke rumah. Setelah berdiskusi ternyata di al-islam bisa dilakukan perawatan walaupun tanpa harus mengikuti prosedur operasi, maka sore itu juga karena ruang rawat penuh, ibu mulai infus di rumah, wampai akhirnya ada kabar terdapat ruang kosong.

Bada ashar kondisi ibu semakin menurun, responnya tak lebih dari kibasan tangan serta raut muka. Selesai shalat ashar sebuah ambulan telah siap menjemput ibu. Entah perasaan apa sore hari itu, terlalu cepat karena berburu waktu kesehatan ibu, namun terasa sangat berat saat saya menggendongnya dari kasur rumah ke kasur ambulan. Respon ibu sangat kecil, sama sekali tak bersuara. Saya, bapak dan bi ajeng ikut mengantar ibu yang langsung masuk ke ruang gawat darurat. 

Perasaan bercampur aduk saat ibu tiba di UGD. Pesan bi kiki yang tak ikut ke rumah sakit agar apapun yang terjadi, ibu jangan sampai ditinggal sendiri, pesan yang membuat fikiran saya kemana-mana. Terlebih saat ibu diperiksa, hanya saya yang bisa menemani, karena bapak dan bi ajeng harus mengurus administrasi rumah sakit.

Saya melihat para perawat yang hilir mudik akibat kondisi ibu, juga dokter yang nampak beberapa kali memeriksa detak jantung melalui stetotoskopnya, serta memeriksa reaksi pupil dengan mengarahkan sebuah senter kecil ke arah matanya. Ibu sangat nampak tak bertenaga, setelah cek pertama, ibu masuk ruang HCU. oksigen dan infus sudah terpasang, dengan respon masih tetap sekedar mengibaskan tangan.

Saya terus menemani beliau di ruang HCU. Sekitar sebelum magrib, ada kejadian emosional dan pertamakalinya buatku. Saat saya sedang talkin dengan membisikkan kalimat "allah" di samping telinganya, terdengar suara hentakkan nafas, bersuara seperti orang mendengkur, awalnya saya tak curiga apapun karena saya lihat tarikan nafas masih ada, namun tak lama kemudian ada hentakan ke dua. Kali ini saya penasaran, saya sentuh lubang hidung beliau. Subhanallah, nafasnya hilang. Dengan emosi yang tak menentu antara sedih dan harus melakukan kewajiban, beruntung saat itu seorang perawat datang lalu saya memberitahukanya via isyarat, karena saya tak sanggup melepas talkin dari kepala ibu.

Moment tersebut membuat fikiran saya bepergian ke berbagai sudut penjuru waktu ketika bersama beliau. 25 tahun saya dibesarkannya, wanita paling cantik di keluargaku. Entah seperti apa nanti bapak, ade dan abi tanpa adanya beliau. Semuanya sudah sangat ketergantungan akan kehadiran ibu yang masih cukup muda untuk membuat perubahan besar pada diri kami. Didikanya berhasil membuat saya tak rela melepaskan kalimat "Allah" di telinganya.

Para perawat mengambil tindakan darurat, sementara saya disuruh keluar dari ruang HCU. Air mata tak mampu lagi terbendung, seakan-akan saya telah melewati waktu terakhir bersama beliau. Pada saat yang sama bi ajeng datang dari urusan administrasinya. Tanpa banyak bicara saya memeluk adik bungsu ibu dengan berbagai kecemasan, dan hanya sanggup menunjuk ke arah ruang HCU, isyarat terjadi sesuatu terhadap ibu.

 Tak lama kemudian, saya diperbolehkan untuk kembali menemani ibu. Kondisinya sangat berubah, berbagai alat medis telah masuk ke dalam tubuhnya. Sebuah ventilator yang menghembuskan oksigen langsung ke paru-paru melalui sebuah selang besar, serta berbagai kabel medis di tubuh ibu. Belum ada laporan dari dokter, namun detak jantung dan fungsi badan saya lihat masih berjalan. Untuk ukuran orang lain mungkin masih bersyukur ibu masih bertahan, namun buat saya, moment itulah saat yang paling berat dan merasa kehilangan terbesar, walaupun tubuh ibu masih bertahan. Saya lanjut talkin di telinganya.

Dokter belum konfirmasi apapun, namun gerak gerik dan komunikasi para perawat dan dokter serta berbagai tindakan memberitahuku soal tak ada lagi respon pupil, paru-paru tak mampu lagi bernafas, serta kesadaran ibu yang tak ada lagi, entah kenapa secara naluriah meneteskan air mataku perlahan sambil berucap innalillahi wa inna ilaihi raajiuun. Namun perasaan tersebut tak lekas menjauhkan talkin saya pada ibu sampai magrib, sampai suara dan emosi saya terlalu berat untuk tetap disitu. Selanjutnya ibu detemani bapak yang sesaat sebelumnya terjatuh juga air matanya. Saudara telah berdatangan, termasuk ade dan abi yang datang sepulang kuliahnya. Emosi mereka nampak lebih parah, keduanya bahkan tak sanggup untuk melihat kondisi ibu. Maka saat itu saya rebahkan segala emosi tersebut pada solat magrib. Saya tersungkur di satu sujud.




Waktu telah beranjak jam 9, atau batas waktu perawatan 6 jam di UGD telah habis. Masih belum ada konfirmasi tentang kondisi ibu, akhirnya ibu dipindah tempat ke ruang ICU. Saat itu saya berharap diberi waktu sendiri, namun keluarga terlalu cemas dan mereka menemaniku saat itu.



Sekali lagi saya harus dihadapkan pada posisi yang paling depan, mengambil jabatan pemimpin dan pembuat keputusan dalam keluarga saat bapak dalam keadaan tak sanggup dan abi ade belum mampu untuk melakukan hal itu. Maka sekali lagi, saya memutuskan tak boleh memperlihatkan kesedihan di depan mereka, sekedar membuat mereka nyaman, terlebih bapak yang terlihat banyak sekali harapan akan kondisi ibu saat itu. Sekali lagi juga bersyukur karena para keluarga yang berkumpul dan membantu kami. Satu-satunya caraku membuang sedih adalah dengan keluar dulu sejenak, ditemani fierly yang saat itu begitu baiknya menemani dan menjembatani tiap letupan emosiku.

Akhirnya hari selasa malam kami mendapat konfirmasi dari dokter, yaitu dari dokter untung, teman bi atit yang bekerja di rumah sakit tersebut. Memang, beliau bukan dokter yang bertugas di ICU, tapi karena berstatus kolega maka beliau mencoba membantu menjelaskan apa yang sedang dialami ibu saat itu. Maka malam itu, di ruang ganti tempat masuk ICU, dokter untung mulai menjelaskan tiap detail kondisi ibu. Kalau tidak salah, dihadapan bapak, mang wawan, dan saya, dokter untung menjelaskan dengan dimulai menggambar kondisi otak ibu.

Ternyata benar firasatku senin lalu, menurut dokter untung, tumor yang terdapat pada kepala ibu telah menyerang batang otak, tempat dimana pusat kontrol syaraf tak sadar pada organ tubuh berada, artinya tak ada lagi yang mengatur kerja organ tubuh ibu, termasuk paru-paru. Kondisi yang membuat ibu bertahan adalah jantungnya yang begitu kuat dan sehat. Berbeda dengan paru-paru, jantung punya kontrol tersendiri yang tak bergantung dari syaraf pusat, namun syaraf hidup jantung adalah harus adanya suply oksigen dan nutrisi. Akhirnya saya mengerti kenapa ventilator itu harus masuk ke mulut ibu, hanya sekedar memaksa paru-paru agar bisa menyuply oksigen pada jantung ibu yang masih sehat.

Pada kesimpulannya dokter untung menyatakan, dengan matinya batang otak, maka saat itu juga secara medis menyatakan bahwa ibu tak mungkin sadar lagi, artinya ibu memang telah tiada sejak nafasnya yang terakhir kali. Dokter untung pun memberi gambaran tentang tak ada gunanya menunggu kondisi ibu seperti itu. Karena mustahil ibu kembali sadar dan secara gak langsung beliau lebih menyarankan agar segala alat yang mendukung hidup ibu segera dicabut dan mengikhlaskan ibu untuk selamanya.



Informasi tersebut merupakan berita sangat berat untuk keluarga, bersama dengan berita itu, saat itu juga seakan-akan menjadi sebuah berita kehilangan terbesar, kebetulan karena saya telah menduga berbagai kemungkinan soal kondisi ibu, maka berita itu tak terlalu berat walaupin cukup membuat saya kembali ke posisi bersujud. Namun seakan masih tak percaya dan berharap ada kejaiban serta ada usaha lain untuk memulihkan kondisi ibu, keluarga tetap pada pendirian untuk mempertahankan ibu sebisa mungkin.

Sampailah esok hari, dimana dimulainya memposisikan diri sebagai yang memimpin keluarga. Setelah datangnya bi nina yang berprofesi di dunia medis, dan keluarga pun melakukan diskusi, sampai mendapat kesimpulan untuk mencoba melepas ibu. Saat itu hal yang mulai dilepas adalah menghentikan asupan obat penguat jantung, sehingga keadaan jantung ibu bisa hidup secara alamiah walaupun ternyata sampai hari kamis, jantung ibu masih membuktikan kekuatanya. Tidak ada penurunan kondisi ibu.


Pada hari kamis itu juga, akhirnya harus dibuat keputusan sangat berat. Setelah bi nina menghubungi dokter untung langsung, berbicara antara sesama orang medis, akhirnya terdapat wacana untuk melepas ventilator ibu, artinya mencabut suply oksigen pada tubuh. Maka sore hari, di rumah bi ajeng, saya mewakili bapak, duduk di hadapan adik-adik ibu. Membahas wacana untuk mencabut ventilator.

Mewakili perkataan bapak, saya menguatkan diri untuk berbicara pada keluarga, menyatakan keikhlasan kami untuk membiarkan ibu segera berpulang. Saat itu ruang tengah rumah bi ajeng begitu hening dan lemas. Keluarga pun nampak begitu lemas untuk menghadapi keadaan ini. Berbagai pendapat saling lempar yang pada akhirnya kami mencari beberapa ustadz untuk berkonsultasi tentang tindakan yag hendak kami lakukan. Alhasil, para ustadz tersebut menyarankan kami untuk segera mengikhlaskan ibu.




Sampai pada malam hari, keputusan pun telah dibuat. Sangat sakit, ibarat menunggu kematian seseorang yang telah diputuskan waktu matinya. Beralasan saat itu adalah hari jumat dan hari terakhir bulan syawal, maka kami mengikhlaskan ibu. Saya saat itu kehilangan tenaga. Namun karena saya masih ingin agar ibu ditemani anaknya, maka saya mencoba menguatkan kedua adik saya.

Ade, abi, dalam kondisi seperti ini, menangis bukan didikan ibu, kebanggaanya adalah saat kita mengurusnya sampai ke liang lahat, sejak masuk rumah sakit saya terus mencoba menguatkan diri, namun sekarang maaf, tolong temani ibu saat terakhir, saat alat pendukung nafas tersebut dicabut, tolong sebut asma allah di telinganya.





Alhamdulillah, malam itu abi siap untuk menghadapi ibu. Mulai jam 11 proses mencabut ventilator dimulai dengan menurunkan kadar oksigen. Di sisi ibu ada bapak, abi dan bi nina yang memperhatikan, berdoa serta talkin di sisi ibu. Saya yang mulai melemas, hanya menemui ibu satu kali, sisanya saya dan ade serta keluarga menunggu di luar ICU.

Detak jam dinding saat itu begitu mengesalkan. Suara pintu yang berbunyi tiap kali pintu ICU terbuka sangat memompa detak jantung yang berusaha tenang, cemas dan menguatkan diri akan berita keihlangan terbesar di hidupku. Bapak dan abi berulang kali keluar ICU untuk minum, bi nina beberapa kali keluar ruangan untuk ke toilet, namun ibu masih terjaga, dan ade masih tetap berada di bawah suatu jam dinding di ruang itu. Tubuh saya melemas, saya merebahkan diri dulu bu..

Maka jam 2.25 bapak membangunkan dan memeluk saya sangat erat. Detak jantung ibu telah berhenti, untuk selamanya. Sungguh saat itu saya tak bertenaga, membiarkan semua orang memeluk badan yang mulai merasa kedinginan. Badan saya menggigil.

Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun. Rabbigfirlii wali waalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaani shagiraa. Terima kasih ibu atas segala kasih sayang, serta ilmu yang engkau beri sampai saat-saat terakhir pada kesadaranmu.

Bapak, abi dan bi nina lanjut memandikan ibu, saya coba ikut, namun tenaga dan mental entah menguap kemana. Ade pun sama, dia bahkan tak sanggup melihat jasad ibu. Lalu saya coba kembali dengan ikut mengkafani. Sampai orang yang paling disayangi itu terbungkus kaffan dengan sempurna. Badan saya begitu menggigil, sampai kita semua tiba di rumah, saya tertidur.


Pagi itu, entah hari jumat yang ke berapa kali dalam hidup saya, terbangun di kamar pak aki yang dingin dan tenang, di samping saya juga abi tertidur pulas. Ohhh saya baru terbangun, jadi saya dari dua minggu lalu hanya bermimpi? syukurlaah... argh tidur ini membuat saya lapar. Kira-kira ibu masak apa pagi ini? ah apapun itu, pasti sangat lezat..

Saatnya keluar kamar..

Hah.. kenapa begitu banyak orang? dan kenapa mereka semua memelukku? hah.. dan siapa itu? siapa yang terbungkus kain batik itu? astagfirullah, ternyata memang nyata, saya tak bermimpi. Ibu.. 

Pagi itu saya berada paling depan di barisan shalat jenazah. Saya masih melihat bapak, begitu berat. Matanya begitu merah, dan di depan saya ibu yang tak akan lagi bersapa untuk selamanya. Tamu begitu banyak, entah siapa ibu ini sampai banyak sekali yang turut bersedih dan turut mensolatkan. Setelah di rumah, ibu disolatkan di mesjid bina muda, sama seperti di rumah, begitu banyak orang yang mensolatkan. Setelah itu, ibu diantar ke liang lahatnya, disebelah mamah yang pertama terbaring di suatu lapang wakaf di tempat kelahirannya, narawita.

Sampai di narawita, ibu disolatkan di mesjid daerah tempat lahirnya tersebut. Dan saya, menatap liang lahat untuk ibu.

Alhamdulillah ibu, ini baktiku, ini didikanmu, saya antar engkau sampai tempat terakhir. Saya beranikan turun di liang itu, di sebelah kananku ustad atang, di sebelah kiriku, mang iim dan abi yang juga ingin melaksanakan kewajiban kita sebagai anak sholeh. Lalu ibu, jenazahnya telah diangkat dan diantarkan menuju tempat ini. Abi yang pertama kali menerima jenazah dari mulai kepalanya. Kami hadapkan ibu ke kiblat, dan doaku mengalir saat ikatan kafan di kepala ibu dibuka ustadz atang. Ibu, kami menyayangimu..

Jumat, 08 Februari 2013

sepetak kecil di ujung bogor

Kalau kata bimbo di Indonesia itu tongkat kayu jadi tanaman, maka saya bersedia paling depan untuk mengamininya. Tanah subur, kekayaan alam melimpah, serta keramah tamanah, saya setuju jika negeri ini disebut surga. Jangankan kita kunjungi semua pulau nusantara, sepetak tanah negeri ini adalah kekayaan hayati yang tak akan ternilai dengan uang.

Alhamdulillah, pekerjaan saya sekarang memudahkan saya untuk tetap bersyukur karena telah berada di negeri ini. Sebenarnya saya lebih setuju saat kegiatan saya ini disebut mewarisi teknologi nenek moyang, bukan organik yang jadi gaya hidup dan kebutuhan orang.

Organik, saat terucap kata tersebut bukanlah suatu produk yang tanpa menggunakan bahan kimia. Saya jauh lebih membayangkan tentang keindahan. Banyak hama yang mereka bunuh dengan kimia ternyata ada haknya untuk tetap hidup, untuk tetap berketurunan, untuk tetap makan dan dimakan. Ah, saya sangat senang sekali saat ada tupai yang loncat dipagi hari dari pohon ke pohon, atau serangga berwarna indah yang memakan dedaunanku, atau burung-burung yang terbang diatas lahan sekedar mencari belalang yang merobek sayuranku. Mereka semua punya hak untuk hidup, ada jatah mereka untuk terus mempunyai keturunan.

Kerakusan manusia yang membuat mereka ganas, yang membuat banyak orang melupakan warisan nenek moyang. Aku meminta maaf untuk semua penghuni ekosistem ini.